LAPISAN BUMI
A. Kompetensi Inti
- Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.
- Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, (toleransi, gotongroyong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam jangkauan dan keberadaannya
- Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, terkait fenomena dan kejadian tampak mata.
- Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
3.10 Menjelaskan lapisan bumi, gunung api, gempa bumi, dan tindakan pengurangan
resiko sebelum, pada saat, dan pasca bencana di daerahnya.
|
3.10.1 Mendeskripsikan karakteristik lapisan
penyusun bumi
3.10.2 Mendeskripsikan karakteristik atmosfer
3.10.3 Mendeskripsikan karakteristik litosfer
3.10.4 Menjelaskan proses terjadinya gempa
bumi
3.10.5 Menjelaskan karakteristik gempa bumi
serta pengurangan resiko bencana gempa bumi.
3.10.6 Menjelaskan proses terjadinya erupsi
gunung berapi
3.10.7 Menjelaskan karakteristik gunung api
dan pengurangan resiko bencananya
3.10.8 Mengidentifikasi dampak dari peristiwa
erupsi gunung berapi
3.10.9 Menjelaskan karakteristik hidrosfer
dan cara pengurangan resiko bencana banjir
|
BUMI merupakan planet ketiga dalam system galaksi Bima
Sakti. Berdasarkan gambar yang diambil dari teleskop Hubble yang diluncurkan National Aeronautics and Administration
(NASA), Bumi memiliki bentuk bulat seperti bola. Seperti yang kita ketahui,
bahwa sebuah bola hanya memiliki selimut yang menyelubungi permukaan saja,
sedangkan bagian dalamnya kosong. Namun, apakah planet kita juga kosong di
bagian dalamnya seperti bola?
A. LAPISAN-LAPISAN PENYUSUN
BUMI
1. Kerak Bumi (Crush)
Kerak
bumi adalah lapisan paling luar bumi yang menjadi tempat tinggal seluruh
makhluk hidup. Lapisan kerak atau kulit bumi tersusun atas batuan beku, batuan
metamorf dan batuan sedimen. Permukaannya dicirikan adanya pegunungan, daratan
yang sangat luas dan datar, serta palung laut.
Kerak
bumi adalah lapisan yang selalu bergerak. Pada zaman dahulu kala, seluruh
daratan di bumi membentuk suatu massa daratan yang sangat luas sehingga
hewan-hewan dapat menjelajah dengan bebas. Namun massa daratan yang hidrosfer
luas itu kemudian terpecah dan
pecahan-pecahannya mengapung membentuk lembaran-lembaran yang disebut lempeng.
Kerak
bumi membentuk lempeng samudra dan lempeng benua. Lempeng benua luasnya kira-kira 35% dari
seluruh bagian kerak bumi dan ketebalannya
mencapai 20-70 km.
Lempeng samudra luasnya kira-kira 65% dari seluruh bagian
kerak bumi dan ketebalannya
mencapai 5-10 km. Suhu di bagian bawah kerak bumi mencapai 1.1000 C.
Lapisan kerak bumi
dan bagian di bawahnya hingga kedalamn 100 km dinamakan litosfer. Kerak dean
mantel dibatasi oleh Mohorovivic
Discontinuity.
1. Mantel
Bumi
Lapisan
selimut bumi terletak tepat dibawah kerak bumi dengan ketebalan mencapai 2.900
km. Bagian atas lapisan mantel bumi merupakan lapisan batuan padat dan di
bagian bawah merupakan lapisan batuan yang likuid (cair-cair padat). Suhu di
lapisan ini dapat mencapai 30000 C. Lapisan mantel bumi berfungsi
sebagai pelindung bagian dalam bumi.
2. Inti
Bumi
Lapisan
inti bumi (core) terletak dibawah selimut bumi atau tepat ditengah bumi.
Lapisan inti bumi memiliki ketebalan 3.500 km merupakan lapisan yang paling dalam dari bumi. Lapisan
inti bumi sangat padat dan menjadi pusat massa dari bumi. Tekanan dalam inti
bumi sangat besar dan suhunya mencapai 60000 C.
Lapisan
inti terbagi menjadi 2 bagian utama, yaitu lapisan inti luar (outer core)
dan lapisan inti dalam (inner core). Inti luar memiliki ketebalan
sekitar 2.000 km dan memiliki suhu mencapai 3.8000 C. Lapisan ini
sebagian besar tersusun atas besi cair. Sedangkan, lapisan inti dalam adalah
lapisan yang menjadi pusat bumi. Bentuknya seperti bola dengan diameter 2.700
km dan memiliki suhu 60000 C. Bahan utama penyusun lapisan ini
adalah besi dan nikel.
Naiknya
cairan panas disebabkan oleh adanya tekanan luar bumi ke dalam inti bumi atau compressing.
Karena Inti dalam bumi mengalami tekanan atau compressing mengakibatkan cairan
atau bahkan gas menjadi benda padat. Semakin dalam lapisan tanah mempunyai
nilai berat jenis yang semakin meningkat. Demikian juga inti dalam bumi
mempunyai nilai berat jenis yang paling tinggi karena mengalami tekanan.
A. KOMPONEN PENYUSUN BUM
Secara
umum Bumi terdiri atas 3 komponen utama, yakni komponen gas yang disebut
atmosfer, komponen padatan yang disebut litosfer, dan komponen air
yang disebut hidrosfer.
1.
ATMOSFER
Atmosfer berasal
dari 2 kata Yunani, yakni atmos yang
berarti uap dan sphaira yang berarti
lapisan, jadi atmosfer merupakan lapisan udara yang menyelimuti bumi. Lapisan atmosfer merupakan campuran dari berbagai unsur.
Unsur yang paling utama adalah 78,08% Nitrogen (N2), oksigen (O2) sebanyak
20,95%, argon (Ar) sebanyak 0,95%, dan karbon dioksida (CO2) sebanyak 0,034%.
Atmosfer yang menyelimuti bumi, memiliki sifat sebagai berikut:
a. Tidak memiliki warna, tidak
berbau, dan tidak memiliki wujud, serta hanya bisa dirasakan oleh indra perasa manusia
dalam bentuk angin.
b. Memiliki berat sehingga
dapat menyebabkan tekanan.
c. Memiliki sifat dinamis dan
elastis yang dapat mengembang dan mengerut.
Struktur Lapisan Atmosfer
a.
Troposfer
Lapisan troposfer merupakan
lapisan terdekat dari permukaan bumi. Lapisan ini memiliki karakteristik
sebagai berikut.
- Di khatulistiwa, ketinggiannya 16 km, di sekitar lintang tengah 11 km, dan di daerah kutub tebalnya 8 km.
- Gejala cuaca terjadi di lapisan ini perubahan suhu yang mendadak, angin, tekanan dan kelembaban udara yang kita rasakan sehari-hari terjadi.
- Setiap kenaikan 100 m, suhu udara rata-rata turun 0,5°C, di daerah tropis suhu rata-rata turun 0,5°C.
- Tebal lapisan troposfer rata-rata ± 10 km.
- Terdapat gas-gas rumah kaca yang menyebabkan efek rumah kaca dan pemanasan global.
b. Stratosfer
Lapisan stratosfer
merupakan lapisan kedua, yang memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Terletak pada ketinggian
sekitar 12-50 km dpl
2) Pada lapisan ini terdapat
lapisan ozon (O3) untuk melindungi lapisan bumi dari radiasi matahari yang
berbahaya.
3) Lapisan stratosfer disebut
juga lapisan isotermis.
4) Semakin tinggi tempat, suhu
semakin naik.
Ozon adalah gas yang dapat ditemukan di lapisan
stratosfer yaitu lapisan awan yang terletak antara 15 hingga 35 km dari
permukaan bumi. Lapisan ozon sangat penting karena ozon menyerap radiasi ultra
violet (UV) dari matahari untuk melindungi radiasi yang tinggi sampai ke
permukaan bumi. Adanya penyerapan radiasi UV-B sebelum sinar UV sampai ke
permukaan bumi, lapisan ozon melindungi bumi dari efek radiasi yang merusak
kehidupan.
c.
Mesosfer
Lapisan mesosfer memiliki
karakteristik sebagai berikut.
1) Terletak pada ketinggian sekitar
50-80 km dpl
2) Lapisan mesosfer ditandai
dengan penurunan suhu 0,4°C setiap 100 meter.
3) Bagian atas mesosfer
dibatasi oleh mesopause, yaitu lapisan di dalam atmosfer yang memiliki suhu
paling rendah, kira-kira -100°C.
4) Lapisan ini melindungi bumi
dari jatuhan meteor.
d. Termosfer
Lapisan termosfer disebut
juga lapisan ionosfer, lapisan ini memiliki karakteristik sebagai berikut.
1) Memiliki ketinggian sekitar
85-300 km di atas permukaan bumi
2) Pada lapisan ini terjadi
proses ionisasi yang terjadi pada suhu dan ketinggian tertentu. Ionisasi
bermanfaat untuk memantulkan gelombang radio.
3) Suhu dapat mencapai hingga
1.500 °C.
e. Eksosfer
Pada lapisan ini, suhu dapat mencapai 2.200 °C. Merupakan
batas antara atmosfer bumi dan angkasa luar. Lapisan ini bermanfaat untuk
penempatan satelit buatan
2. LITOSFER
Istilah litosfer berasal dari Bahasa Yunani yaitu lithos berarti
batuan dan sphera berarti lapisan. Planet bumi mempunyai struktur
lapisan yang terdiri atas kerak, mantel, dan inti. Kerak bumi atau litosfer
merupakan bagian permukaan bumi yang tersusun atas batu-batuan. Ketebalannya di
bawah laut sekitar 3 km, tetapi di benua dapat mencapai sekitar 35 km. Adapun
batu-batuan di inti bumi berbentuk padat, tetapi dapat bergerak pelan. Di inti
bumi, tekanannya jutaan kali lebih besar daripada tekanan atmosfer. Adapun
suhunya diperkirakan sekitar 4.500°C. Panas dari inti bumi tersebut berusaha
meloloskan diri keluar bumi. Dalam prosesnya, panas tersebut terhalang oleh
lapisan batu-batuan. Di daerah
dekat permukaan bumi (litosfer), panas itu dapat merapuhkan batuan.
Kulit bumi yang keras dinamakan kerak bumi, terbagi atas
lempeng benua (Continental Crust) dan lempeng samudra (Oceanic Crust).
Kedua lempeng ini memiliki karakteristik berbeda. Bahan utama pembentuk kulit
bumi adalah magma. Magma merupakan batuan cair pijar yang bersuhu tinggi dan
mengandung berbagai unsur mineral dan gas. Litosfer tersusun oleh sekitar 90
jenis unsur kimia yang satu dengan lainnya membentuk persenyawaan yang disebut
Mineral.
Litosfer juga tersusun atas lapisan Sial dan lapisan Sima.
Lapisan Sial (lempeng
benua) memiliki massa jenis
lebih ringan dari lapisan Sima (lempeng samudera)
karena
lapisan ini tersusun dari silikat dan alumunium, senyawanya dalam bentuk SiO2
dan Al2O3. Sedangkan lapisan Sima tersusun dari
silikat magnesium, senyawanya dalam
bentuk SiO2 dan MgO. Di bawah litosfer
terdapat lapisan batuan cair yang dinamakan astenosfer. Suhu dan tekanan di
lapisan ini sangat tinggi, sehingga batu-batuan di lapisan astenosfer bergerak
mengalir seperti cairan karena adanya arus konveksi dan pecah menjadi
lempengan-lempengan.
Teori yang berkaitan dengan Lempeng
Tektonik yaitu:
a.
Teori continental drift (Alfred Wegener)
Alfred
Wegener mengajukan sebuah teori yang dikenal dengan teori pergerakan benua (continental
drift). Dalam teorinya, Wegener menjelaskan bahwa pada zaman dahulu, semua
benua di Bumi menyatu membentuk sebuah daratan yang sangat luas. Sekitar 200
juta tahun lalu benua tersebut terpisah dan bergerak menjauh secara perlahan.
Akan tetapi, teori pergerakan benua yang diajukan Wagener tidak dapat
menjelaskan bagaimana benua berpisah dan bergerak menjauh. Oleh karena itu,
teori pergerakan benua Wagener ditolak oleh para ahli pada saat itu.
b.
Teori seafloor spreading (Harry Hess)
Hess
menjelaskan bahwa di bawah kerak Bumi tersusun atas material yang panas dan
memiliki massa jenis yang rendah. Akibatnya, material tersebut naik ke punggung
kerak samudra. Kemudian material bergerak ke samping bersama dasar kerak
samudra, sehingga bagian dasar kerak samudra tersebut menjauh dari punggung
kerak samudra dan membentuk sebuah patahan. Teori ini mampu menjelaskan
bagaimana proses terbentuknya lembah maupun gunung bawah laut.
c.
Teori Tektonik Lempeng
Teori ini didasarkan pada dua teori sebelumnya yaitu teori continental drift dan teori seafloor spreading. Teori ini berhasil menjelaskan berbagai peristiwa
geologis, seperti gempa bumi, tsunami, dan meletusnya gunung berapi, serta
tentang bagaimana terbentuknya gunung, benua, samudera, dan bahan galian.
Menurut teori tektonik lempeng, permukaan bumi terbagi atas kira-kira 20
pecahan besar yang disebut lempeng. Ketebalannya sekitar 70 km. Ketebalan lempeng
kira-kira hampir sama dengan litosfer yang merupakan kulit terluar bumi yang
padat. Lempengnya kaku dan lempeng tersebut bergerak di atas astenosfer yang
lebih cair.
Ketika lempeng bergerak, maka akan terjadi interaksi antarlempeng.
Interaksi tersebut dapat membentuk sebuah palung laut, pegunungan, maupun
sebuah gunung berapi. Ketika lempeng bergerak, maka sebuah energi akan
dilepaskan berupa gelombang seismik atau yang dikenal dengan gempa. Kamu dapat
melihat efek dari pergerakan lempeng di daerah pegunungan, erupsi gunung
berapi, atau sebuah tempat yang berubah setelah terjadi gempa atau aktivitas
gunung berapi.
Berdasarkan pada arah gerakannya, perbatasan
pada lempeng tektonik yang satu dengan yang lain (plate
boundaries) terdiri dari 3 tipe, yakni divergen, konvergen, serta
transform.
a. Gerak Divergen (Menjauh)
Ketika sebuah lempeng tektonik pecah dan bergerak saling
berlawanan sehingga menyebabkan pemekaran dasar laut (seafloor spreading), sedangkan pada lempeng benua menyebabkan
terbentuknya lembah retakan (rift valley)
akibat adanya celah antara kedua lempeng yang saling menjauh.
a. Gerak Konvergen
Terjadi ketika dua
lempeng tektonik bergerak saling mendekat sehingga kerak samudera menyusup ke bawah kerak benua (subduksi), dan
mengakibatkan keduanya bergerak slaing menumpu satu sama lain. Wilayah subduksi
ini disebut dengan zona subduksi dan di zona inilah sering terjadi gempa bumi.
b. Gerak Transform
Terjadi bila dua lempeng tektonik bergerak sejajar namun
berlawanan arah dan tidak saling bertumbukan. Batas pergerakan lempeng ini
disebut dengan sesar ubahan-bentuk (transform fault). Contohnya yaitu Sesar San
Andreas di California, Amerika Serikat.
d.
Gempa Bumi
Gempa bumi merupakan berguncangnya bumi
yang disebabkan oleh tumbukan antar lempeng bumi, patahan aktif aktivitas
gunung api atau runtuhan batuan. Dinamika bumi memungkinkan terjadinya gempa
bumi. Di seluruh dunia tidak kurang dari 8000 kejadian gempa bumi terjadi tiap
hari (dari skala kecil sampai skala besar). Dari kejadian gempa bumi dunia,
kurang lebih 10% terjadi di Indonesia. Gempa bumi merupakan serangkaian getaran
kulit bumi yang bersifat sementara dan menyebar ke segala arah.
Proses Gempa Bumi
Lempeng samudera yang massa jenisnya
lebih besar ketika bertumbukan dengan lempeng benua di zona tumbukan (subduksi)
akan menyusup ke bawah. Gerakan lempeng tersebut akan mengalami perlambatan
akibat gesekan dari selubung bumi. Perlambatan gerakan itu menyebabkan
penumpukan energi di zona subduksi dan zona patahan. Akibatnya di zona-zona itu
terjadi tekanan, tarikan, dan geseran. Pada saat batas elastis lempeng
terlampaui maka terjadilah patahan batuan yang diikuti oleh lepasnya energi
secara tiba-tiba. Proses ini menimbulkan getaran partikel ke segala arah yang disebut gelombang gempa bumi.
Kekuatan gempa (magnitude) dinyatakan
dengan skala Richter. Skala Richter menunjukkan besarnya energi gempa yang
dilepaskan. Berdasarkan gempa yang terjadi, rentang Skala Richter antara 1,00 –
10,00. Semakin besar magnitude sebuah gempa, maka energi yang dilepaskan juga
semakin besar, kerusakan yang ditimbulkan juga semakin besar.
Dinamika bumi digambarkan dengan pergerakan lempeng-lempeng
yang menyusun kerak bumi. Pergerakan lempeng-lempeng di dunia memungkinkan
adanya interaksi antara lempeng yang satu dengan lempeng yang lain. Gempa bumi
digolongkan menjadi beberapa jenis berdasarkan penyebab terjadinya gempa bumi
adalah sebagai berikut:
1)
Gempa bumi runtuhan, terjadi karena
adanya runtuhan batuan
2)
Gempa bumi vulkanik, terjadi karena
erupsi (letusan) gunung berapi
3)
Gempa tektonik, terjadi karena
pergeseran letak kulit bumi
Berdasarkan
kedalaman pusat gempa, gempa bumi dibedakan menjadi:
1)
Gempa bumi dangkal (normal), pusatnya
<70km
2)
Gempa bumi sedang (intermediet),
pusatnya 70-300 km
3)
Gempa bumi dalam, pusatnya 300-700 km
Wilayah Indonesia mencakup daerah-daerah yang mempunyai
suatu tingkat resiko gempa yang tinggi sekali karena dihubungkan oleh sistem
tektonis yang aktif, yaitu lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, Lempeng
Filipina, dan Lempeng Pasifik. Deretan lempeng ini membentang dari barat
Sumatera, Selatan Jawa, dan terus sepanjang Timor.
Indonesia merupakan salah satu negara
yang rawan terjadi gempa bumi, oleh karena itu kita perlu melakukan tindakan
pengurangan resiko gempa. Mitigasi dapat dilakukan sebelum, pada saat, dan
setelah terjadi bencana dan dapat digambarkan seperti siklus berikut ini.
Tindakan
yang harus dilakukan pada saat gempa:
1) Lindungi tubuh
anda dari jatuhan benda-benda, dengan tidak berdiri dekat gedung, tiang, dan pohon.
Cari tempat yang luas seperti lapangan.
2) Tetap tenang
ketika terjadi gempa, agar tidak menimbulkan kepanikan.
3) Berpeganganlah
dengan erat sehingga Anda tidak terjatuh.
4) Ada kemungkinan
longsor terjadi dari atas gunung. Carilah tempat aman.
5) Di pesisir pantai,
bahayanya datang dari tsunami. Cepatlah mengungsi ke dataran yang tinggi.
6) Lindungi kepala
Anda dari jatuhan benda berat. Anda dapat bersembunyi di bawah meja yang kokoh.
e.
Gunung Berapi
Gunung
berapi merupakan lubang kepundan dalam kerak bumi tempat keluarnya cairan magma
atau gas/ cairan alinnya ke permukaan bumi. Gunung api terbentuk akibat adanya
pergerakan lempeng yang terus menekan sejak jutaan tahun lalu hingga sekarang. Gunung
berapi terbentuk di daerah tabrakan lempeng samudera kerak dan kerak benua. Di
daerah ini terjadi tabrakan lempeng yang membentuk zona sesar. Gunung berapi
terbentuk dari batuan cair panas yang disebut magma yang berasal dari perut
bumi. Magma yang keluar dari gunung berapi disebut lava. Lama kelamaan lava
mendingin dan mengeras menjadi bebatuan. Dari
lava yang menumpuk tersebut dapat terbentuk sebuah gunung baru.
Erupsi (meletusnya) gunung berapi terjadi ketika magma dalam perut bumi memiliki suhu yang sangat
tinggi dan tekanan yang sangat besar sehingga mendorong cairan magma tersebut
keluar dari mulut gunung berapi dan mengeluarkan lava yang mengalir ke lembah
gunung dan dataran rendah di sekitar gunung tersebut. Selain itu juga
mengeluarkan gas dan abu vulkanik.
Di Indonesia (Jawa dan Sumatera)
pembentukan gunungapi terjadi akibat tumbukan kerak Samudera Hindia dengan
kerak Benua Asia. Di Sumatra penunjaman lebih kuat dan dalamsehingga bagian
akresi muncul ke permukaan membentuk pulau-pulau, seperti Nias, Mentawai, dll.
Pergerakan antar lempeng ini menimbulkan empat busur gunung api berbeda:
1. Peningkatan kegempaan vulkanik
Kegempaan vulkanik ditandai dengan adanya aktivitas yang tidak biasa pada
gunung berapi seperti peningkatan frekuensi gempa bumi yang meningkat dimana
dalam sehari, dapat terjadi gempa hingga puluhan kali.
Selain terjadinya peningkatan aktivitas seismik, kejadian vulkanis
lainnya bisa jadi karena pergerakan hidrotermalatau magma yang berlangsung di
dalam perut bumi. Jika peningkatan intensitas gempa bumi terjadi dalam kurun
waktu yang telah ditentukan, maka perlu diwaspadai. Jangan lupa lakukan penyuluhan
pada masyarakat sekitar. Selain itu, lakukan juga pengecekan dengan cara
berbagi shift untuk pemantauan.
2. Suhu kawah mengalami peningkatan
Suhu magma yang naik, akan mempengaruhi magma secara keseluruhan. Pada
jenis gunung yang normal, magma yang terkumpul tidaklah terlalu banyak di area
kawah tidak menyebabkan perubahan suhu.
3. Terjadinya deformasi badan gunung
Deformasi badan gunung merupakan dampak dari gelombang magnet serta listrik
sehingga dapat menyebabkan terjadinya perubahan struktur pada lapisan gunung
yang bisa mempengaruhi bagian dalam gunung seperti dapur magma.
4. Lempeng bumi yang saling
berdesakan
Lempeng yang saling berdesakan, menyebabkan tekanan besar yang menekan
serta mendorong permukaan bumi sehingga membuat beragam gejala tektonik, meningkatkan
aktivitas geologi gunung serta vulkanik. Lempeng merupakan bagian dari kerak
bumi yang setiap saat terus bergerak. Daerah gunung merupakan zona dimana kedua
lempeng bertemu dan menyebabkan struktur dalam gunung berapi berubah.
5. Akibat
tekanan yang tinggi
Beberapa penyebab yang telah
dijelaskan sebelumnya, mampu mendorong magma untuk bergerak ke atas dan masuk
ke saluran kawah dan keluar. Jika dalam perjalanan, magma mengalami
penyumbatan, maka ledakan akan terjadi. Hal ini dikenal pula dengan letusan
gunung berapi. Letusan pada gunung berapi, akan semakin kuat jika volume
magmanya juga besar. Bagi yang tinggal di sekitar gunung, sebaiknya tahu dengan
betul ciri gunung akan meledak sehingga bisa melakukan antisipasi terlebih
dahulu.
Material letusan gunung api terdiri dari:
a. Benda padat (efflata) meliputi debu, pasir,
lapii (batu kerikil), batu-batu besar (boom) , dan batu apung
b. Benda cair (efusif) berupa lava, lahar panas,
dan lahar dingin.
c. Benda gas (ekshalasi) berupa uap air (paling
banyak), CO2, SO2, HCl, H2S, HF, CO, H2,
NH3, CH4, dan SiF4.
Dampak negatif erupsi gunung berapi:
a. Tercemarnya
udara dengan abu gunung berapi yang mengandung bermacam-macam gas mulai dari Sulfur
Dioksida (SO2), gas Hidrogen Sulfida (H2S),
Nitrogen Dioksida (NO2), serta beberapa partikel debu yang
berpotensial meracuni makhluk hidup di sekitarnya.
b. Dengan meletusnya suatu gunung berapi maka bisa dipastikan semua aktivitas
penduduk di sekitar wilayah tersebut akan lumpuh termasuk kegiatan ekonomi.
c. Semua titik yang dilalui oleh material berbahaya seperti lahar dan abu
vulkanik panas akan merusak pemukiman warga.
d. Lahar yang panas juga akan membuat hutan di sekitar gunung rusak terbakar
dan hal ini berarti ekosistem alamiah hutan terancam.
e. Material yang dikeluarkan oleh gunung berapi berpotensi menyebabkan
sejumlah penyakit misalnya saja ISPA.
f. Desa yang
menjadi titik wisata tentu akan mengalami kemandekan dengan adanya letusan
gunung berapi. Misalnya Gunung Rinjani dan Gunung Merapi, dimana
kedua gunung ini jika dalam kondisi normal merupakan salah satu destinasi
wisata terbaik bagi mereka wisatawan pecinta alam.
Dampak Positif Erupsi Gunung
Berapi
a. Tanah yang
dilalui oleh hasil vulkanis gunung berapi sangat baik bagi pertanian sebab
tanah tersebut secara alamiah menjadi lebih subur dan bisa menghasilkan tanaman
yang jauh lebih berkualitas. Tentunya bagi penduduk sekitar pegunungan yang
mayoritas petani, hal ini sangat menguntungkan.
b. Terdapat mata pencaharian baru bagi rakyat sekitar gunung berapi yang telah
meletus yaitu penambang pasir. Material vulkanik berupa pasir tentu memiliki
nilai ekonomis.
c. Terdapat pula bebatuan yang disemburkan oleh gunung berapi saat meletus.
Bebatuan tersebut bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangungan warga sekitar
gunung.
d. Meski ekosistem hutan rusak, namun dalam beberapa waktu, akan tumbuh lagi
pepohonan yang membentuk hutan baru dengan ekosistem yang juga baru.
e. Setelah gunung meletus, biasanya terdapat geyser atau sumber mata
air panas yang keluar dari dalam bumi dengan berkala atau secara periodik. Geyser
ini kabarnya baik bagi kesehatan kulit.
f. Muncul mata air
bernama makdani, yaitu jenis mata air dengan kandungan mineral yang
sangat melimpah.
g. Pada wilayah vulkanik, potensial terjadi hujan orografis. Hujan ini
potensial terjadi sebab gunung adalah penangkan hujan terbaik.
h. Pada wilayah yang sering terjadi letusan gunung berapi, sangat baik
didirikan pembangkit listrik.
1.
HIDROSFER
Bumi diperkirakan adalah satu-satunya planet yang mengandung air. Sekitar
tiga per empat permukaan bumi terdiri dari perairan. Hampir 96% berat air bumi
tersusun dari hidrogen dan oksigen. Di samping itu natrium, klorin dan banyak
unsur lain juga ditemukan di perairan samudra.
Bagaimana siklus air berlangsung?
Di pagi hari, saat kamu bangun tidur lihatlah daun-daun di sekitarmu yang
berembun. Semakin siang saat sinar matahari semakin menyengat, embun-embun itu
tak ada lagi. Begitu pula saat kamu menjemur pakaianmu yang basah, setelah
selang waktu tertentu bajumu menjadi kering. Kemana air-air itu? Air itu menguap, yaitu berubah dari
wujud cair ke wujud gas. Uap air yang terbentuk naik menembus atmosfer Bumi,
semakin lama semakin banyak dan mendingin menjadi awan. Proses ini disebut kondensasi. Semakin lama
titik-titik air hasil kondensasi semakin banyak hingga tak mampu lagi bertahan
di awan, maka terjadilah hujan. Air hujan mengalir di sungai, di danau, menjadi
air tanah atau terkumpul di laut. Air-air itu akan mengalami penguapan,
kondensasi dan menjadi hujan lagi. Proses ini terjadi berulang-ulang, yang
disebut siklus air.
1. Evaporasi
Merupakan proses penguapan air pada permukaan bumi. Air-air yang ditampung
dalam badan air seperti laut, danau, sungai, atau bendungan akan mengalami
perubahan menjadi uap air karena adanya panas matahari. Evaporasi mengubah air
(bentuk cair) menjadi air (bentuk gas) sehingga memungkinkan air dapat naik ke
atmosfer bumi. Semakin terik matahari, maka semakin banyak jumlah air yang
diubah menjadi uap air dan naik ke atmosfer.
2. Transpirasi
Merupakan penguapan yang berlangsung pada jaringan makhluk hidup. Dalam
proses ini air yang berwujud cair diubah menjadi wujud gas menuju lapisan
atmosfer. Akan tetapi jumlah uap air pada proses ini tidak sebanyakk pada
proses evaporasi.
3. Evapotransporasi
Proses ini merupakan
penguapan air secara keseluruhan baik dari permukaan Bumi (transpirasi) maupun
badan air atau tanah (evaporasi). Dalam siklus hidrologi, laju evapotranspirasi
sangat berpengaruh terhadap jumlah uap air yang naik ke atas permukaan
atmosfer.
4. Sublimasi
Sublimasi merupakan
proses perubahan es yang berada di kutub atau di puncak gunung menjadi uap air
tanpa melewati fase cair.
5. Kondensasi
Ketika uap air dari proses penguapan maupun dari proses sublimasi naik dan
mencapai titik ketinggian tertentu. Uap air akan berubah menjadi
partikel-partikel es melalui proses kondensasi. Proses ini terjadi diakibatkan
suhu udara rendah di titik ketinggian tersebut. Partikel-partikel ini akan
saling mendekat dan bergabung sehingga membentuk awan.
6. Adveksi
Merupakan proses dimana awan yang terbentuk akan mengalami perpindahan dari
satu titik ke titik lain secara horizontal akibat arus angin atau perbedaan
tekanan cuaca.
7. Presipitasi
Proses ini adalah proses mencairnya wan yang akan mengalami adveksi
dikarenakan suhu udara yang tinggi. Pada proses ini terjadinya hujan, dimana
butiran-butiran air akan jatuh membasahi permukaan bumi.
8. Run off
Merupakan suatu pergerakan air yang berasal dari tempat tinggi ke tempat
rendah. Melalui proses ini, air yang melalui siklus hidrologi akan kembali ke
lapisan hidrosfer.
9. Infiltrasi
Tidak semua air hujan akan mengalir melalui proses run off, sebagian kecil
air hujan juga akan bergerak menuju pori-pori tanah, merembes dan terakumulasi
dengan air tanah. Proses ini akan membawa air tanah kembali ke laut secara
lambat.